Terkadang 2

Terkadang aku menyembah kesunyian. Terkadang aku mengagumi kebisingan. Terkadang aku merindukan hutan belantara. Terkadang aku membenci gunung yang begitu tenang. Terkadang aku mencari laut yang berwarna jingga. Terkadang aku melupakan pesisir yang berbisik ramah. Terkadang aku menari-nari di sudut ruang tak bernada. Terkadang menangis aku dalam pelukan benda tak bernyawa. Terkadang kesendirian itu sebuah pertanyaan…

Read Full News

Koma

Aku melawan waktu, aku membunuh kamu. Berperang dengan kenangan, dengan pedang setajam rindu. Aku pernah melepaskanmu, dan aku berpura senang. Aku lelah tak mendengar jeritan diammu. Kau berteriak di telingaku setiap malam. Kau lagi-lagi menang, aku pasrah, kau pun datang. Semakin membesar pinggangmu… Semakin menurun kulitmu… Semakin memutih rambutmu… Semakin liar kau menindihku.

Read Full News

Tubuh Yang Bukan Aku

Aku merasakan petir menyambar jantungku. Mendung yang sendu, aku melihat keliaranmu mengayun tubuh yang bukan aku. Perih air mata ini mengalir deras di pipi. Bayangkanlah! Aku kini sedang berdansa di bawah langit berwarna merah. Terbang kearah entah kemana, awan menertawakanku, diguyur hujan deras. Bernama: Amarah.

Read Full News

Terkadang

Perih ini tak ingin terusik. Disapa malam oleh hingar bingar yang menyamar. Malam semakin pekat, ragaku penuh amarah yang tercekat. Birahi pun memudar ditelan keramaian yang aku abaikan. Terkadang diam itu sebuah kepastian. Terkadang keramaian membuatku semakin tenggelam. Setetes birahi yang menyumbul dihadapan para sahabat. Pena menari-nari tanpa arah yang pasti. Menciptakanmu di dalam kehampaan…

Read Full News

Malam

Malam, Malam, oh! Malam… Hari dan hari tak bisa kubedakan lagi. Ku ubah semua yang ada ditubuhku hingga aku sedikit rapuh. Sama, serupa, berganti bergilir secara seksama. Rutinitas bukan lagi sebuah kapasitas. Aku mampu mengubah apa yang aku mau. Apapun, siapapun, semua tertunduk secara temurun. Bergantilah sesuai apa yang kuperintahkan. Tidurlah seperti apa yang aku…

Read Full News

Surat Berhala Kepada Udara

Hujan terlalu berisik, malam semakin terusik, bintang seperti dipingit, hati menjerit otak mengungkit, dua ribu lima ratus, sesak semakin membungkit, beku aku tenggelam didalamnya. Pucat aku berkarat, sedih karena tak bergeliat, sampai dimana kau udara? Langit pasti gelap, malam pun serasa berarak panjang. Nikotin kafein mengapa menjadi memualkan? Dua ribu tujuh ratus lima puluh. Pena…

Read Full News

Hantu-Hantu Di Kepala

Pada akhirnya kita bisa memberhentikan Bumi, dan bercinta menikmati hari-hari yang tak pernah berganti musim. Salju turun secara tiba-tiba tanpa permisi juga menyapa, hingga dinginnya mencekik tulang-tulang tubuh kita yang telanjang. Saling curiga, saling berteriak, saling meladeni hantu-hantu di kepala. “Siapakah yang mengundang musim salju datang? Bukankah Bumi sudah kita hentikan?” tanyamu kencang. “Aku” jawabku….

Read Full News