Malam sudah pergi, mentari yang enggan kusapa telah menyapa. Aku hanya diam menggenggam menahan ketukan, mencari namamu dalam ketikan jemariku. Aku merindukanmu, merindukan waktu yang telah kucoba kubunuh berkali-kali. Segumpal tanya dalam birahi dikala pagi, mengapa aku tak memanggilmu datang kemari? Entahlah sampai kapan aku menopang beban kenangan tentang dirimu. Aku menatapmu dalam angan, kau datang dalam bentuk bayang-bayang.
Kesakitan yang pernah kau buat berbentuk sayatan di dalam dadaku, sempat memudar dengan cara kejamku untuk melupakanmu, tapi kini hadir, kerinduan itu hadir tanpa kuundang secara berbisik. Entah ini lelah atau jengah, aku hanya merindukanmu, aku hanya ingin kau tahu. Juga aku penuh digelayuti rasa ketakutan, ketakutan akan kecanduan dirimu yang berulang-ulang, yang sulit sekali kulenyapkan tanpa mengenal berapa angka yang tertindih oleh waktu. Tubuhmu kini semakin memesona, aku semakin merindukanmu, dadamu semakin bergoyang ketika aku memelukmu dan kau berkata: “Akupun merindukanmu wahai kekasihku.”, yang membuatku semakin berhasrat denganmu, kacamatamu semakin tebal melindungi penglihatanmu dikala kau memerankan apapun yang pasti aku menyukai segala hal itu. Semua itu membuat aku semakin ingin memanggilmu, selalu. Agar kau datang kepadaku, agar aku bisa menamparmu dengan birahiku, agar tempat tidurku basah oleh keringatmu ketika kau kubuat seperti kuda betina ditunggangi kacung yang menagih ribuan pecutan.
Datang… datanglah wanitaku jalang.
Datang… datanglah wanita dalam angan-angan masa depan.
Datang… datanglah sebelum matahari menyapa dengan sorotan cahaya yang mengangkang.