Namaku: Kebebasan.
Tak kudengar segala suara berkumandang di telinga.
Aku… aku tak berupa sayap.
Hanya khayal yang ingin bepergian ke segala tempat.
Dekap, tangkap, jika kau bisa.
Pasrah, bukan lagi sifatku. Sikap?
Sikap ialah hal “terkadang” yang kuperbuat, lalu aku tersesat.
Tersesat dalam bayang rindu akan suaramu, senandungmu, desahmu, kisahmu, bentuk segala rupamu.
Aku merindukanmu.
Rindu yang sedikit mustahil untuk merebutmu dari Majikanmu.
Kau bukan lagi kepalsuan birahiku, tetapi kau ialah bayang yang nyata dalam alunan gitarku.
Aku tak lagi peduli engkau siapa, yang aku sadari ialah:
Aku menginginkan kau ada di bawah tubuhku… Bicara tanpa kata, diam dalam gerak.