Jingga: “Aku ingin mensudahi semuanya, entah dengan cara apa.”
Lara: “Aku pun lelah tak berdaya setiap kali aku terjaga, mengingatmu lebih perih daripada mencari keberadaan Tuhan.”
Jingga: “Pernah aku meremehkan keadaan, kini aku merindumu tanpa bisa lupa.”
Lara: “Jika manusia sepertiku haruslah terus menerus seperti ini, aku ingin mencaci maki kekosongan, dengan embel-embel yang mereka kata, bahwalah Surga berada di masa depan.”
Jingga: “Surga berada di masa apa? Neraka pun iya ada? Jangan mencoba bertanya kepada jawaban, kita akan hancur di tubuh ini perempuan!”
Lara: “Kau kira kita ada dicipta siapa? Setan?!”
Jingga: “Kau kira kita ini apa? Malaikat buatan?!”