Di sebuah pulau bernama Bali.
Ruang sepi, berdongeng jerit-jerit.
Kesunyian kau genggam,
Ada diam bersenggama.
Bukan rindu, oh jengah,
Katakan saja kau begitu lelah,
Menolehlah, aku mengetuk pintu rumahmu,
Bukan untuk menyayat dinding kamarmu,
Juga tidak merapikan apa,
Tergeletak, sudah retak.
Adalah kau yang bertanya;
“Siapa engkau, wahai pria?”
Ialah aku tercipta dari,
Sajak-sajakmu yang luka.
Sentuh aku, kasih,
Aku membawa kekuatanmu,
Yang sempat hilang.
Aku datang menenteng embun,
Dipanggil pagi yang menantang,
Merebut takut sedari malam,
Malam tercekik segala kemunafikan.
Genggam tanganku, kasih,
Kemas rapi kenangan itu,
Tersenyumlah… ada aku…
Aku… akulah adam dari jiwamu yang terbelah.