Aku mengutukmu dari tempat dimana aku menatapmu.
Aku mengutukmu dari bunyi-bunyi yang kau mainkan diatas panggung kecil penuh pria hidung belang yang bernafsu denganmu.
Aku mengutukmu selesai sudah irama malam dihabisi tarian para pendosa.
Aku mengutukmu berjam-jam kutunggu sapamu, menyeringai aku, kau menenteng boneka entah itu siapa.
Aku mengutukmu, aku diam tak ingin menyentuh segala ini pengetahuan.
Aku mengutukmu karena ada hari kita bersama, di bawah bulan yang sama, kita saling menindih dengan birahi yang luar biasa.
Aku mengutukmu kau datang, kau pergi, tanpa ingin tahu, aku memang menunggumu, atau sudah muak denganmu.
Aku mengutukmu!