Berlari Mengejar
Mungkin kau senang dikejar. Namun mungkin kau tak merasakan lelahnya mengejar. Aku takut kau terlalu senang berlari. Sampai lupa aku sudah berhenti jauh-jauh hari.
Mungkin kau senang dikejar. Namun mungkin kau tak merasakan lelahnya mengejar. Aku takut kau terlalu senang berlari. Sampai lupa aku sudah berhenti jauh-jauh hari.
Tampari aku dengan kemunafikan. Tunggangi aku penuh dengan kekuatan. Liar Liar Liar. Cambukmu membuatku semakin tak kuasa berkelana. Teriak Oh! Aku berteriak. Terkunci dalam paham yang tak pernah pasti. Aku di sini dalam peluh penuh distorsi. Dalam bunyian penuh imajinasi. Beri aku ruang berikan aku ingatan. Bukan masa lalu yang harus kulupakan.
Ketika Burp Suite diam membisu dan Frida tak berdaya, rahasia aplikasi Flutter seringkali tersembunyi di balik lapisan native code dan BoringSSL yang bandel. Sebagai seorang pentester atau pengembang yang ingin menganalisis keamanan aplikasi, Anda pasti pernah mengalami frustrasi saat mencoba meng-intercept traffic HTTPS aplikasi Flutter. Proxy biasa tidak bekerja, script Frida yang biasanya ampuh tiba-tiba…
Di pelataran teras depan rumah, Tirai bambu malu-malu bersiaga, Buku-buku manis berbisik ramah, Punggung kayu menyapa senja. Menunggu kamu aku rindu, Ini indah bukan pahit Ada manis dibelai waktu, Kususun cerita melambai-lambai sakit. Menari-nari aku menari, Kucipta larik untuk langkah kita. Aku menunggumu, menunggu kamu di teras ini. Satu kataku: Hanyalah ragu yang akan menghentikan…
Aku melawan waktu, aku membunuh kamu. Berperang dengan kenangan, dengan pedang setajam rindu. Aku pernah melepaskanmu, dan aku berpura senang. Aku lelah tak mendengar jeritan diammu. Kau berteriak di telingaku setiap malam. Kau lagi-lagi menang, aku pasrah, kau pun datang. Semakin membesar pinggangmu… Semakin menurun kulitmu… Semakin memutih rambutmu… Semakin liar kau menindihku.
Sebenarnya ini adalah artikel yang sudah lama saya publish di WordPress.com. Namun beberapa waktu lalu akun WordPress saya sempat kena suspend untuk alasan yang gak jelas, semua konten dan artikel saya di WordPress hilang dan tidak bisa dibackup atau export sehingga membuat saya cukup jengkel. Semua konten dan artikel tersebut saya buat dan tulis sendiri…
Aku berkata tidak tahu, dalam pertanyaan yang kutahu. Aku membiarkan kejadian yang begitu menyakitkan ini, kedalam ranjang dusta kenyataan. Pernah kita bercakap-cakap, pada purnama malam buta. “Kita saling mencinta ya!” Andai tak ada Tuhan-Tuhan selain cinta kita sendiri. Mungkin keabadian yang kusebut-sebut tak akan pernah merobek nadi paham-paham yang sudah diciptakan.
Namaku: Kebebasan. Tak kudengar segala suara berkumandang di telinga. Aku… aku tak berupa sayap. Hanya khayal yang ingin bepergian ke segala tempat. Dekap, tangkap, jika kau bisa. Pasrah, bukan lagi sifatku. Sikap? Sikap ialah hal “terkadang” yang kuperbuat, lalu aku tersesat. Tersesat dalam bayang rindu akan suaramu, senandungmu, desahmu, kisahmu, bentuk segala rupamu. Aku merindukanmu….
BERHALA: Terluka, menganga, jangan ada darah, lepas liar air mata, mencoba merasa, seratus, seribu, kau ada dimana-mana, menghadapimu aku bukan siapa-siapa. Luruh aku bangkai berhala, nanar, ingin memejam menjaga menghadapimu, aku terluka kau ada dimana-mana, aku suka, kau memang udara. UDARA: Diam, dibalut kelam, luka, darah, air mata, semua sudah biasa ditelinga. Aku sakit dalam…
Jika, ialah satu kata perumpamaan. Jika, ialah embel-embel keberanian. Jika, ialah kita, yang tak pantas diguyur cinta. Kita harus membayar ini, ikatan yang sangat mengikat ketidakpastian ini. Kita harus menuntaskan ini, sebab kita yakin kita ialah hanya sepasang makhluk aneh yang pengecut dengan segunung ego. Selesai sudah, kita terpaksa menghilangkan segala rasa yang ada. Selesai…