Koma

Aku melawan waktu, aku membunuh kamu. Berperang dengan kenangan, dengan pedang setajam rindu. Aku pernah melepaskanmu, dan aku berpura senang. Aku lelah tak mendengar jeritan diammu. Kau berteriak di telingaku setiap malam. Kau lagi-lagi menang, aku pasrah, kau pun datang. Semakin membesar pinggangmu… Semakin menurun kulitmu… Semakin memutih rambutmu… Semakin liar kau menindihku.

Read More

Tiga Kata Tanya

Aku mencintaimu, seperti aku mencintai kedua sayapku. Sesederhana itu kukira, serumit ini ternyata. Memejamkan mata ialah khayalku setiap hari. Mengistirahatkan jiwa resah yang berperang dengan tubuh yang gelisah. Mataku terus saja terbuka, jantungku berdebar terbakar api segunung prasangka. Hebat! Kau acak-acak kewarasanku hingga aku lupa namaku: Si Mati Rasa. Aku luka, aku gila, aku kenapa?…

Read More

Terkadang 2

Terkadang aku menyembah kesunyian. Terkadang aku mengagumi kebisingan. Terkadang aku merindukan hutan belantara. Terkadang aku membenci gunung yang begitu tenang. Terkadang aku mencari laut yang berwarna jingga. Terkadang aku melupakan pesisir yang berbisik ramah. Terkadang aku menari-nari di sudut ruang tak bernada. Terkadang menangis aku dalam pelukan benda tak bernyawa. Terkadang kesendirian itu sebuah pertanyaan…

Read More

Ada Kala-nya

Ada kala-nya saya tak berdiam diri melihat rengekan bayi. Ada kala-nya saya memasak makanan enak. Ada kala-nya saya mencuci baju, menyetrika pakaian, menyiapkan seragam kerja. Ada kala-nya saya begitu cerewet agar peralatan di kamar tetap rapi. Ada kala-nya saya melakukan adegan ranjang dengan rasa siap berperang. Ada kala-nya hanya susu penguat tulang adalah minuman di…

Read More

Terkadang

Perih ini tak ingin terusik. Disapa malam oleh hingar bingar yang menyamar. Malam semakin pekat, ragaku penuh amarah yang tercekat. Birahi pun memudar ditelan keramaian yang aku abaikan. Terkadang diam itu sebuah kepastian. Terkadang keramaian membuatku semakin tenggelam. Setetes birahi yang menyumbul dihadapan para sahabat. Pena menari-nari tanpa arah yang pasti. Menciptakanmu di dalam kehampaan…

Read More

Asiknya Menunggu Kamu

Di pelataran teras depan rumah, Tirai bambu malu-malu bersiaga, Buku-buku manis berbisik ramah, Punggung kayu menyapa senja. Menunggu kamu aku rindu, Ini indah bukan pahit Ada manis dibelai waktu, Kususun cerita melambai-lambai sakit. Menari-nari aku menari, Kucipta larik untuk langkah kita. Aku menunggumu, menunggu kamu di teras ini. Satu kataku: Hanyalah ragu yang akan menghentikan…

Read More

Mengiyakan Hasrat

Aku berkata tidak tahu, dalam pertanyaan yang kutahu. Aku membiarkan kejadian yang begitu menyakitkan ini, kedalam ranjang dusta kenyataan. Pernah kita bercakap-cakap, pada purnama malam buta. “Kita saling mencinta ya!” Andai tak ada Tuhan-Tuhan selain cinta kita sendiri. Mungkin keabadian yang kusebut-sebut tak akan pernah merobek nadi paham-paham yang sudah diciptakan.

Read More