Ada Kala-nya

Ada kala-nya saya tak berdiam diri melihat rengekan bayi. Ada kala-nya saya memasak makanan enak. Ada kala-nya saya mencuci baju, menyetrika pakaian, menyiapkan seragam kerja. Ada kala-nya saya begitu cerewet agar peralatan di kamar tetap rapi. Ada kala-nya saya melakukan adegan ranjang dengan rasa siap berperang. Ada kala-nya hanya susu penguat tulang adalah minuman di…

Read More

Terkadang 2

Terkadang aku menyembah kesunyian. Terkadang aku mengagumi kebisingan. Terkadang aku merindukan hutan belantara. Terkadang aku membenci gunung yang begitu tenang. Terkadang aku mencari laut yang berwarna jingga. Terkadang aku melupakan pesisir yang berbisik ramah. Terkadang aku menari-nari di sudut ruang tak bernada. Terkadang menangis aku dalam pelukan benda tak bernyawa. Terkadang kesendirian itu sebuah pertanyaan…

Read More

Wanita Dulu, Wanita Masa Lalu

Malam sudah pergi, mentari yang enggan kusapa telah menyapa. Aku hanya diam menggenggam menahan ketukan, mencari namamu dalam ketikan jemariku. Aku merindukanmu, merindukan waktu yang telah kucoba kubunuh berkali-kali. Segumpal tanya dalam birahi dikala pagi, mengapa aku tak memanggilmu datang kemari? Entahlah sampai kapan aku menopang beban kenangan tentang dirimu. Aku menatapmu dalam angan, kau…

Read More

Liar Liar Liar Aku Liar

Tampari aku dengan kemunafikan. Tunggangi aku penuh dengan kekuatan. Liar Liar Liar. Cambukmu membuatku semakin tak kuasa berkelana. Teriak Oh! Aku berteriak. Terkunci dalam paham yang tak pernah pasti. Aku di sini dalam peluh penuh distorsi. Dalam bunyian penuh imajinasi. Beri aku ruang berikan aku ingatan. Bukan masa lalu yang harus kulupakan.

Read More

Terkadang

Perih ini tak ingin terusik. Disapa malam oleh hingar bingar yang menyamar. Malam semakin pekat, ragaku penuh amarah yang tercekat. Birahi pun memudar ditelan keramaian yang aku abaikan. Terkadang diam itu sebuah kepastian. Terkadang keramaian membuatku semakin tenggelam. Setetes birahi yang menyumbul dihadapan para sahabat. Pena menari-nari tanpa arah yang pasti. Menciptakanmu di dalam kehampaan…

Read More

Bersenandung Dalam Diam

Bersenandung pelan dalam diam. Sendiri aku merajut tanya, mengapa kali ini tak ada air mata? Bersenandung aku mulai kencang, air mata hadir menyapaku pelan-pelan, pipiku basah dibasuh olehnya, mengapa aku menjadi gelisah? Bersenandung dalam diam, ada sebuah pesan dari telapak tangan yang kugenggam; “Bersenandunglah dalam diam, akan kusampaikan nada-nada rindumu kepadanya, kepada dia yang selalu…

Read More

Hantu-Hantu Di Kepala

Pada akhirnya kita bisa memberhentikan Bumi, dan bercinta menikmati hari-hari yang tak pernah berganti musim. Salju turun secara tiba-tiba tanpa permisi juga menyapa, hingga dinginnya mencekik tulang-tulang tubuh kita yang telanjang. Saling curiga, saling berteriak, saling meladeni hantu-hantu di kepala. “Siapakah yang mengundang musim salju datang? Bukankah Bumi sudah kita hentikan?” tanyamu kencang. “Aku” jawabku….

Read More

Sejenak

Izinkan aku untuk diam sejenak. Izinkan aku menjauhimu sejenak. Izinkan aku berlari sejenak. Izinkan aku menghela nafas sejenak. Sejenak aku butuh berteriak. Sejenak jiwaku berkelana menghampirimu. Sejenak perlahan ragaku mulai ragu. Sejenak dadaku tak pernah muak, meski kau sering kali melempar rindu. Oh! Aku sesak!

Read More