Terkoyak-Koyak
Terkoyak-koyak aku mengelak. Terkoyak-koyak kau berlalu tanpa jejak. Terkoyak-koyak kita setengah separuh muak. Terkoyak-koyak, lihat! Purnama tak lagi bermalam jinak.
Terkoyak-koyak aku mengelak. Terkoyak-koyak kau berlalu tanpa jejak. Terkoyak-koyak kita setengah separuh muak. Terkoyak-koyak, lihat! Purnama tak lagi bermalam jinak.
Malam sudah pergi, mentari yang enggan kusapa telah menyapa. Aku hanya diam menggenggam menahan ketukan, mencari namamu dalam ketikan jemariku. Aku merindukanmu, merindukan waktu yang telah kucoba kubunuh berkali-kali. Segumpal tanya dalam birahi dikala pagi, mengapa aku tak memanggilmu datang kemari? Entahlah sampai kapan aku menopang beban kenangan tentang dirimu. Aku menatapmu dalam angan, kau…
Aku berkata tidak tahu, dalam pertanyaan yang kutahu. Aku membiarkan kejadian yang begitu menyakitkan ini, kedalam ranjang dusta kenyataan. Pernah kita bercakap-cakap, pada purnama malam buta. “Kita saling mencinta ya!” Andai tak ada Tuhan-Tuhan selain cinta kita sendiri. Mungkin keabadian yang kusebut-sebut tak akan pernah merobek nadi paham-paham yang sudah diciptakan.
Tidurlah, Nak, dalam dekapan malam yang semakin pekat. Jangan lagi kau hiraukan gemerlap pesta pora yang membakar langit di atas kepala kita. Mereka merayakan kemerdekaan, sebuah kata yang terasa asing dan hampa di gubuk kita yang pengap. Kemerdekaan, Nak, bagi kita hanyalah jeda sejenak dari lapar sebelum esok kembali berjuang untuk sesuap nasi. Pejamkan matamu…
Aku merasakan petir menyambar jantungku. Mendung yang sendu, aku melihat keliaranmu mengayun tubuh yang bukan aku. Perih air mata ini mengalir deras di pipi. Bayangkanlah! Aku kini sedang berdansa di bawah langit berwarna merah. Terbang kearah entah kemana, awan menertawakanku, diguyur hujan deras. Bernama: Amarah.
Mungkin kau senang dikejar. Namun mungkin kau tak merasakan lelahnya mengejar. Aku takut kau terlalu senang berlari. Sampai lupa aku sudah berhenti jauh-jauh hari.
Izinkan aku untuk diam sejenak. Izinkan aku menjauhimu sejenak. Izinkan aku berlari sejenak. Izinkan aku menghela nafas sejenak. Sejenak aku butuh berteriak. Sejenak jiwaku berkelana menghampirimu. Sejenak perlahan ragaku mulai ragu. Sejenak dadaku tak pernah muak, meski kau sering kali melempar rindu. Oh! Aku sesak!
Sebenarnya ini adalah artikel yang sudah lama saya publish di WordPress.com. Namun beberapa waktu lalu akun WordPress saya sempat kena suspend untuk alasan yang gak jelas, semua konten dan artikel saya di WordPress hilang dan tidak bisa dibackup atau export sehingga membuat saya cukup jengkel. Semua konten dan artikel tersebut saya buat dan tulis sendiri…
Jika, ialah satu kata perumpamaan. Jika, ialah embel-embel keberanian. Jika, ialah kita, yang tak pantas diguyur cinta. Kita harus membayar ini, ikatan yang sangat mengikat ketidakpastian ini. Kita harus menuntaskan ini, sebab kita yakin kita ialah hanya sepasang makhluk aneh yang pengecut dengan segunung ego. Selesai sudah, kita terpaksa menghilangkan segala rasa yang ada. Selesai…
Sedikit saja berilah aku kepuasan. Agar saja aku tak bersenggama dengan lampiasan. Agar aku tak tertumpuk nafsu berdua. Aku tak merasakan apa setelah lama. Sendiri aku jengah, tak ada yang kusapa. Ditelan waktu kita berjumpa, dengan nama yang dibuat secara asal. Kau… Aku… Satu dalam balutan hubungan beku. Lusa, kita lihat dimensi apakah yang kelak…