Kamu Saja

Aku mencintaimu tanpa banyak sebab. Aku mendambakanmu tanpa setitik kemunafikan. Aku mengagumimu tanpa jarum-jarum arah yang pasti. Aku menunggumu tanpa rasa kenyang dengan segala keraguan. Aku saja! Kau kata. Kamu saja! Aku kata. Ya! Sudah kuletakkan cinta ini pada tempat yang tepat. Ya! Birahiku ditindih malam setiap saat. Ya! Kuganggu kau dari sini, hati-hati aku…

Read Full News

Frekuensi

Bunyi-bunyi memekakkan telingaku. Bunyi-bunyi hadir menggerayangi isi kepalaku. Bunyi-bunyi menikam diamku. Bunyi-bunyi yang tertawa dalam nadiku. Darahku mendidih perih. Kebekuan heningku tak menjadi sebuah cerita. Gejolak yang tak bernama ini sangat tak kusangka akan ada. Frekuensi dalam diam. Frekuensi ditelan malam. Frekuensi bising yang biadab. Frekuensi gelap. Frekuensi yang membuatku ingin kau lenyap.

Read Full News

Liar Liar Liar Aku Liar

Tampari aku dengan kemunafikan. Tunggangi aku penuh dengan kekuatan. Liar Liar Liar. Cambukmu membuatku semakin tak kuasa berkelana. Teriak Oh! Aku berteriak. Terkunci dalam paham yang tak pernah pasti. Aku di sini dalam peluh penuh distorsi. Dalam bunyian penuh imajinasi. Beri aku ruang berikan aku ingatan. Bukan masa lalu yang harus kulupakan.

Read Full News

Koma

Aku melawan waktu, aku membunuh kamu. Berperang dengan kenangan, dengan pedang setajam rindu. Aku pernah melepaskanmu, dan aku berpura senang. Aku lelah tak mendengar jeritan diammu. Kau berteriak di telingaku setiap malam. Kau lagi-lagi menang, aku pasrah, kau pun datang. Semakin membesar pinggangmu… Semakin menurun kulitmu… Semakin memutih rambutmu… Semakin liar kau menindihku.

Read Full News

Terkadang 2

Terkadang aku menyembah kesunyian. Terkadang aku mengagumi kebisingan. Terkadang aku merindukan hutan belantara. Terkadang aku membenci gunung yang begitu tenang. Terkadang aku mencari laut yang berwarna jingga. Terkadang aku melupakan pesisir yang berbisik ramah. Terkadang aku menari-nari di sudut ruang tak bernada. Terkadang menangis aku dalam pelukan benda tak bernyawa. Terkadang kesendirian itu sebuah pertanyaan…

Read Full News

Tubuh Yang Bukan Aku

Aku merasakan petir menyambar jantungku. Mendung yang sendu, aku melihat keliaranmu mengayun tubuh yang bukan aku. Perih air mata ini mengalir deras di pipi. Bayangkanlah! Aku kini sedang berdansa di bawah langit berwarna merah. Terbang kearah entah kemana, awan menertawakanku, diguyur hujan deras. Bernama: Amarah.

Read Full News

Bersenandung Dalam Diam

Bersenandung pelan dalam diam. Sendiri aku merajut tanya, mengapa kali ini tak ada air mata? Bersenandung aku mulai kencang, air mata hadir menyapaku pelan-pelan, pipiku basah dibasuh olehnya, mengapa aku menjadi gelisah? Bersenandung dalam diam, ada sebuah pesan dari telapak tangan yang kugenggam; “Bersenandunglah dalam diam, akan kusampaikan nada-nada rindumu kepadanya, kepada dia yang selalu…

Read Full News

Ada Yang…

Ada yang memberi cinta kepada sesama. Ada yang menampung rasa kepada rencana. Ada yang berdansa demi menutup luka. Ada yang cantik karena mematung berlindung. Ada yang basah diguyur canda. Ada yang menyala menyapa kepada cahaya. Ada yang menggelengkan kepala tanpa kata-kata. Semua berwarna-warni, aku tetap berdiam diri. Semua menari-nari, aku tetap tidak peduli. Semua rindu…

Read Full News