Beranda » Perempuan Yang Penuh Pesan, Perempuan Yang Kucipta Dalam Tulisan

Perempuan Yang Penuh Pesan, Perempuan Yang Kucipta Dalam Tulisan

Perempuan itu sudah tiga jam kutatap tanpa sebab, di bangku menghadap bar, berpakaian mini dress hitam berbahan katun ringan, sepatu kets, bertubuh tinggi dan duduk dengan kaki dilipat, berkulit sawo matang, hidung mancung dengan ujung sedikit bulat, rambut terurai sedikit berantakan, namun memikat walau tanpa polesan make up.

Aku yang hanya diam di bangku bar yang tepat berseberangan dengannya, aku yang tersihir oleh diamnya, aku yang dihinggapi tanya-tanya siapa dia, aku yang dibisiki oleh udara pengap di malam akhir pekan, lalu mengajakku untuk menatap sepasang matanya yang menerawang entah kemana, tubuhnya seperti singgah dengan pasrah, menunggu jiwanya yang terbang tanpa ada pesan yang tertinggal, kutebak-tebak ia sedang bergumam dalam diam-nya “Kapan kah (aku) utuh kembali?”

Atau mungkin ia sedang berjudi dengan masa lalunya? Lalu bergumam dalam jerit hati tak bersuara “Bisakah sesuatu yang telah kupesan tak lagi pergi untuk dikembalikan?”

Bergelas-gelas sudah minuman yang ia pesan, ia teguk, ia resap, entahlah semua itu akan menjadi ramuan seperti apa di tubuhnya kini. Apakah tawa yang akan hadir untuk singgah sesaat dalam bentuk bayang-bayang yang ia ciptakan? Ataukah rasa pusing demi lupakan kesedihan yang ia tahan? Akankah datang semua itu untuk menjenguknya walau hanya sesaat?

Alkohol, menyendiri, cantik memikat, perempuan yang kutatap, dengan berbatang-batang rokok yang ia hisap, juga jemarinya yang tak henti mengetuk-ngetuk nada di meja, seperti menghitung sebuah untung dan rugi dalam cinta yang tak rela, yang juga tak layak dibela. Seperti sesuatu yang sudah melekat kekal di jantungnya. Seperti ingin mengingat sudah berapa kali hal ini terulang? Atau sudah cukupkah tentang hasratnya berpetualang? Bibirnya yang terus membisu, kekal terkunci, seperti gembok penjara yang menggenggam jeruji besi untuk seorang pencuri yang gemar menyendiri.

Perempuan yang kulihat, yang kutatap tanpa sebab, andai kenanganmu tak hanya terekam dalam kebisuanmu, andai kau tahu aku di sini berbicara tentang dirimu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *