Tidurlah, Nak, dalam dekapan malam yang semakin pekat. Jangan lagi kau hiraukan gemerlap pesta pora yang membakar langit di atas kepala kita. Mereka merayakan kemerdekaan, sebuah kata yang terasa asing dan hampa di gubuk kita yang pengap. Kemerdekaan, Nak, bagi kita hanyalah jeda sejenak dari lapar sebelum esok kembali berjuang untuk sesuap nasi. Pejamkan matamu yang sembap, biarkan Kakak menjagamu dan bercerita tentang ironi di negeri yang katanya kaya raya ini.
Di luar sana, para pembesar negeri berdendang tentang kedaulatan, tentang harga diri bangsa yang tak bisa ditawar. Namun di saat yang bersamaan, mereka justru menyerahkan data-data diri kita ke negeri seberang, ke Amerika. Mereka bilang ini demi kemajuan ekonomi digital, demi hubungan dagang yang lebih erat. Katanya, data kita akan aman dan dikelola dengan tanggung jawab. Tapi, Nak, bagi Kakak, ini tak ubahnya menjual sejengkal demi sejengkal martabat kita. Data pribadi kita, akte kelahiran kita sebagai warga negara, kini diobral murah atas nama investasi. Apakah mereka lupa bahwa data adalah aset strategis bangsa? Ataukah memang kita tak lebih dari sekadar angka-angka statistik yang bisa diperjualbelikan?
Dan di saat yang sama, Nak, di saat mereka sibuk merancang kesepakatan-kesepakatan raksasa, di sini kita justru dibuat resah dengan urusan perut yang paling asasi. Pemerintah, dengan dalih memberantas kejahatan, seenaknya memblokir rekening-rekening kecil kita yang tak seberapa isinya. Rekening “dormant”, begitu mereka menyebutnya. Rekening yang sengaja tidak kita sentuh, kita simpan untuk biaya sekolahmu kelak, untuk berobat jika sakit, kini terancam dibekukan. Mereka khawatir rekening itu disalahgunakan, padahal kekhawatiran terbesar kita adalah bagaimana cara menyambung hidup esok hari. Mereka berdalih ingin melindungi, tapi kebijakannya justru semakin menyengsarakan rakyat kecil.
Tidurlah, Nak, jangan kau dengarkan lagi janji-janji pemberantasan korupsi yang memuakkan itu. Para koruptor, tikus-tikus berdasi itu, terus saja berpesta pora dengan uang yang seharusnya menjadi hak kita. Masih ingatkah kau berita tentang korupsi timah yang merugikan negara hingga ratusan triliun? Atau kasus korupsi di Asabri yang menelan uang para pensiunan? Para pelakunya mungkin dihukum, Nak, tapi tak sebanding dengan penderitaan yang kita rasakan. Hukuman mereka bahkan bisa disunat, diringankan, sementara kita di sini harus menanggung beban kemiskinan yang tak berkesudahan. Ketidakadilan ini begitu telanjang di depan mata, sebuah potret buram dari negeri yang katanya menjunjung tinggi hukum.
Tidurlah, Nak, di atas dada Kakak yang sesak oleh amarah dan kesedihan. Malam ini, biarlah Kakak yang menanggung semua beban ini. Tapi ingatlah selalu pesan Kakak, jangan pernah kau padamkan api semangat di dalam dadamu. Semangat para pahlawan yang memerdekakan negeri ini dengan darah dan air mata masih menyala dalam diri kita. Kita adalah pewaris sah dari kemerdekaan itu, bukan mereka yang hanya pandai berpesta dan mengobral janji.
Suatu saat nanti, Nak, kita akan rebut kembali kemerdekaan yang telah dirampas itu. Kita akan membangun negeri di mana setiap anak bisa tersenyum tanpa harus menahan lapar, di mana setiap warga negara dihargai hak-haknya, dan di mana keadilan sosial bukanlah sekadar slogan kosong. Hingga saat itu tiba, tidurlah yang nyenyak, Nak. Bermimpilah tentang Indonesia yang kita cita-citakan bersama. Dan esok, saat fajar menyingsing, kita akan kembali berjuang, dengan kepala tegak dan semangat yang tak akan pernah lekang oleh waktu.