Beranda » Surat Berhala Kepada Udara

Surat Berhala Kepada Udara

Hujan terlalu berisik, malam semakin terusik, bintang seperti dipingit, hati menjerit otak mengungkit, dua ribu lima ratus, sesak semakin membungkit, beku aku tenggelam didalamnya. Pucat aku berkarat, sedih karena tak bergeliat, sampai dimana kau udara? Langit pasti gelap, malam pun serasa berarak panjang. Nikotin kafein mengapa menjadi memualkan? Dua ribu tujuh ratus lima puluh. Pena mana pena? Aku ingin menulis tentang udara.

Udara… aku terluka menganga, jangan ada darah, lepas liar air mata, mencoba merasa, seratus, seribu, kau ada dimana-mana, menghadapimu aku bukan siapa-siapa. Luruh aku bangkai berhala, nanar, ingin memejam menjaga menghadapimu, aku terluka kau ada dimana-mana, aku suka, kau memang udara.

Udara… satu dua kamu adalah tanya, aku mampu merasa namun hadirmu tak ada, tujuh delapan aku bisa menatap, itu bayangku sendiri, itu karenamu, hei dimana dirimu? Aku merasa mampu melihatmu, sebelas duabelas kau tetap tak nyata, ini bukan udara, bekap aku tindih aku, aku ingin memelukmu.

Udara… bahwa kamu bukanlah tempatku meludah, aku senang karena kamu ada dimana-mana. Seribu limaratus, duaribu tercekat, aku diam termenung, udara terima kasih kau ada, kau bukan laknatku, kau juga bukan jahanamku, kau udaraku.

Udara… wiski ini nikmat sekali, asap tembakau ini tetap setia menemani, entah ada di galaksi mana aku berada, di dimensi mana aku terjerat, aku tahu harus pasti bagaimana, aku akan diam mengalah, menatapmu menari bahagia di khatulistiwa bumi. Biarlah bumi, angin bersorak karena merasa gagahnya, seandainya saja semua ini hanya mimpi. Ternyata birahi bukan semata, bukan juga sekedar buka celana, yang menyisakan lenguhan magma. Udara engkaulah birahi rasa dan jiwa. Engkaulah penanda arah. Aku menuju tidur berjalanku, udara, engkaulah imanku.

Udara… merah hitam entah apa ini namanya, dari jauh aku akan melihatmu, dari sini dari gua yang sunyi, kau bukan pelepas birahiku, bukan lambang kelelakianku, bukan juga penanda kejantananku, aku terikam dari belakang, aku lelah aku tak ingin berkompetisi, tak ingin pula jadi juara. Udara… untukku kau bukan piala, bukan permata, kau adalah mata jiwa, aku terbaring tanpa daya di ruang waktu yang sungguh luar biasa.

Udara… pagi ini aku seperti orang gila, cemburuku membuncah luar biasa, memuntahkan berbagai anak panah, seakan aku rela walau darahku tak terima, tapi ya sudahlah aku akan menjauh supaya kau lega, agar pula yang lain puas berkuasa di tahta. Diam tak bernyawa, teriak tak bersuara, nanar tak menatap, cium tak berbau. Wiski ini enak sekali, asap tembakau tak segan menemani, entah apa rasanya. Fajar pagi mulai menyapa, wangimu masih menemaniku. Hmmm… dan itu aku suka. Karenanya aku terluka lagi, tak berdaya lagi. Luka ini membekas dalam sekali, cakarmu membelah putaran rasa. Kamu adalah kamu. Tak mampu aku mengubahmu, walau ingin kulakukan itu, aku senang kau selalu ada walau jauh jaraknya.

Udara… cemburuku luar biasa, amarahku menggila, lidahku menyalak bagai singa muda, yang lapar yang dahaga. Ada yang pernah berkata: “menangislah untuk sesuatu yang berharga.” Maka, air mataku jatuh, tapi airnya beku. Lagi! Aku tak ingin berkompetisi, semua ingin memelukmu itu pasti. Diantara ratusan ribu aku hanyalah debu. Jelas ingin sekali aku lelap dalam pelukmu, semua juga inginkan itu. Udara, telah kulukai kamu, makian liarku membelah angkasa, aku akan menjauh bersama urat nadi yang tercecer terbuai ini. Seperti remah-remah akan kupunguti caci maki yang mengiringi aku sudah biasa, tak apa, aku kan menyimpannya. Ku akui aku lumpuh karenamu, bersoraklah, menarilah untukku, walau aku pasti terluka, ini tak biasa.

Udara… aku lelah, tergolek lemah tak berdaya, aku menjadi suara tanpa tanya, menjadi sunyi di tengah ramainya rimba jagad raya. Pagi ini berbungkus lusuh dan gelap, semua bicara tapi aku tak mampu mencerna, hanya bibir yang berkomat-kamit terlihat dimata, suara-suara itu semakin menjauh. Telah kulukaimu udara, saling menggigit saling menggugat, terlalu gila aku ingin menjajahmu, murka karena pintu yang sengaja kau buka untuk angin yang datang dari mana-mana. Cemburu membakarku hebat sangat. Tak apa kau bukan milikku semata. Aku bergolak karena wajah mereka terlihat puas seperti pahlawan yang menang dalam laga. Biarlah aku kalah, tak apa. Bayangan yang selalu ikuti terlihat siap menerkamku, menunggu dan tak mau pergi, kakiku kupaksa kuat menapak bumi, agar tak larut dalam geramnya gemuruh topan yang terus menyemangati, mungkin jarak itu terlalu jauh. Ribuan cahaya kilometernya, aku memang datang dari yang tersisih, dari yang tak terhitung oleh dunia, dari yang tak ingin terlihat oleh mata, tapi tak apa, aku tak resah karenanya. Aku tak ingin berkompetisi, semua menginginkanmu, semua ingin menghirup Udara-Ku.

Udara… terima kasih kau telah dan pernah menamparku, penaku habis, maka tak ada yang harus kutulis, mungkin aku telah menyerah, entahlah, aku tak terlalu bijaksana untuk itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *