Beranda » puisi » Halaman 3

Dua Puluh Delapan

Dua Puluh Enam, di bulan April. Segerombolan pasukan aku lumpuhkan, beragam bentuk juga fungsi, tawa, cerita, menjadi bahagia yang merajalela. Malam menyetubuhi kami, dengan pesan-pesan rahasia. Lalu tertidur demi kata yang bernama: Lupa! Dua Puluh Tujuh, di bulan April. Salah satu pasukanku menyelinap ke arah depan, perlahan, tak ada yang bisa aku katakan dengan cepat….

Read More

Malam

Malam, Malam, oh! Malam… Hari dan hari tak bisa kubedakan lagi. Ku ubah semua yang ada ditubuhku hingga aku sedikit rapuh. Sama, serupa, berganti bergilir secara seksama. Rutinitas bukan lagi sebuah kapasitas. Aku mampu mengubah apa yang aku mau. Apapun, siapapun, semua tertunduk secara temurun. Bergantilah sesuai apa yang kuperintahkan. Tidurlah seperti apa yang aku…

Read More

Jingga

Menangislah! Jika memang kau harus menangis. Berteriaklah! Sekencang ledakan bom waktu, jika itu yang membuatmu lemas juga klimaks. Manusia ialah kamu! Dimana kesabaran pasti berdurasi. Dibalik segala duka, kau tetap Jingga si Manusia. Jika kau ialah Dewa atau mungkin Berhala, samarmu pastilah akan dipuja-puja. Tapi untuk apa? Jingga! Air matamu tertahan, dan kau pun selalu…

Read More

Wanita Dulu, Wanita Masa Lalu

Malam sudah pergi, mentari yang enggan kusapa telah menyapa. Aku hanya diam menggenggam menahan ketukan, mencari namamu dalam ketikan jemariku. Aku merindukanmu, merindukan waktu yang telah kucoba kubunuh berkali-kali. Segumpal tanya dalam birahi dikala pagi, mengapa aku tak memanggilmu datang kemari? Entahlah sampai kapan aku menopang beban kenangan tentang dirimu. Aku menatapmu dalam angan, kau…

Read More

Gadis Di Bulan Februari

Aku hanya ingin berteriak, berteriak memanggil namamu kencang-kencang. Aku hanya tak ingin diam, diam saja di bangku yang menyembunyikan aku dari pandangan. Aku hanya ingin minum bergelas-gelas penjelasan, penjelasan mengenai kisah yang dibisik oleh Tuhan. Aku hanya ingin bersama, berdansa dalam irama tanya. Mengapa kau hadir di bulan yang merdu? Mengapa kau merajut cinta dikala…

Read More

Kamu Saja

Aku mencintaimu tanpa banyak sebab. Aku mendambakanmu tanpa setitik kemunafikan. Aku mengagumimu tanpa jarum-jarum arah yang pasti. Aku menunggumu tanpa rasa kenyang dengan segala keraguan. Aku saja! Kau kata. Kamu saja! Aku kata. Ya! Sudah kuletakkan cinta ini pada tempat yang tepat. Ya! Birahiku ditindih malam setiap saat. Ya! Kuganggu kau dari sini, hati-hati aku…

Read More

Mengutuk-mu

Aku mengutukmu dari tempat dimana aku menatapmu. Aku mengutukmu dari bunyi-bunyi yang kau mainkan diatas panggung kecil penuh pria hidung belang yang bernafsu denganmu. Aku mengutukmu selesai sudah irama malam dihabisi tarian para pendosa. Aku mengutukmu berjam-jam kutunggu sapamu, menyeringai aku, kau menenteng boneka entah itu siapa. Aku mengutukmu, aku diam tak ingin menyentuh segala…

Read More

Oh-Ya!

Oh-ya, kau ada tak juga hilang dari kepala. Oh-ya, aku sendiri pun kau tetap selalu ada. Oh-ya, aku mencipta kau walau itu semua tiada. Oh-ya, air mata menetes aku berlagak tertawa saja. Oh-ya, kukira aku jatuh cinta. Oh-ya, kusangka kau sama rasa. Oh-ya, sulit kuterima ternyata ini sebuah dusta. Oh-ya, aku lupa, bahwa aku hanyalah…

Read More

Terkadang 2

Terkadang aku menyembah kesunyian. Terkadang aku mengagumi kebisingan. Terkadang aku merindukan hutan belantara. Terkadang aku membenci gunung yang begitu tenang. Terkadang aku mencari laut yang berwarna jingga. Terkadang aku melupakan pesisir yang berbisik ramah. Terkadang aku menari-nari di sudut ruang tak bernada. Terkadang menangis aku dalam pelukan benda tak bernyawa. Terkadang kesendirian itu sebuah pertanyaan…

Read More