Beranda » puisi » Halaman 4

Terkadang

Perih ini tak ingin terusik. Disapa malam oleh hingar bingar yang menyamar. Malam semakin pekat, ragaku penuh amarah yang tercekat. Birahi pun memudar ditelan keramaian yang aku abaikan. Terkadang diam itu sebuah kepastian. Terkadang keramaian membuatku semakin tenggelam. Setetes birahi yang menyumbul dihadapan para sahabat. Pena menari-nari tanpa arah yang pasti. Menciptakanmu di dalam kehampaan…

Read More

Udara

BERHALA: Terluka, menganga, jangan ada darah, lepas liar air mata, mencoba merasa, seratus, seribu, kau ada dimana-mana, menghadapimu aku bukan siapa-siapa. Luruh aku bangkai berhala, nanar, ingin memejam menjaga menghadapimu, aku terluka kau ada dimana-mana, aku suka, kau memang udara. UDARA: Diam, dibalut kelam, luka, darah, air mata, semua sudah biasa ditelinga. Aku sakit dalam…

Read More

La…La…La…La…La

Lalalalala… Suara dari arah sana. Lalalalala… Irama datang membawa tanya. Lalalalala… Bunyi apa di kepala? Lalalalala… Satu per satu orang-orang berlalu-lalang. Lalalalala… Mereka tak hanya berjumlah satu. Lalalalala… Satu per satu mereka mendatangiku. Lalalalala… Tersenyum aku berpura bahagia. Lalalalala… Air mata tak menetes di wajah. Lalalalala… Basah basuh hatiku ditahan amarah. Lalalalala… Apakah mereka tahu,…

Read More

Sejenak

Izinkan aku untuk diam sejenak. Izinkan aku menjauhimu sejenak. Izinkan aku berlari sejenak. Izinkan aku menghela nafas sejenak. Sejenak aku butuh berteriak. Sejenak jiwaku berkelana menghampirimu. Sejenak perlahan ragaku mulai ragu. Sejenak dadaku tak pernah muak, meski kau sering kali melempar rindu. Oh! Aku sesak!

Read More

Frekuensi

Bunyi-bunyi memekakkan telingaku. Bunyi-bunyi hadir menggerayangi isi kepalaku. Bunyi-bunyi menikam diamku. Bunyi-bunyi yang tertawa dalam nadiku. Darahku mendidih perih. Kebekuan heningku tak menjadi sebuah cerita. Gejolak yang tak bernama ini sangat tak kusangka akan ada. Frekuensi dalam diam. Frekuensi ditelan malam. Frekuensi bising yang biadab. Frekuensi gelap. Frekuensi yang membuatku ingin kau lenyap.

Read More

Bersenandung Dalam Diam

Bersenandung pelan dalam diam. Sendiri aku merajut tanya, mengapa kali ini tak ada air mata? Bersenandung aku mulai kencang, air mata hadir menyapaku pelan-pelan, pipiku basah dibasuh olehnya, mengapa aku menjadi gelisah? Bersenandung dalam diam, ada sebuah pesan dari telapak tangan yang kugenggam; “Bersenandunglah dalam diam, akan kusampaikan nada-nada rindumu kepadanya, kepada dia yang selalu…

Read More

Ada Yang…

Ada yang memberi cinta kepada sesama. Ada yang menampung rasa kepada rencana. Ada yang berdansa demi menutup luka. Ada yang cantik karena mematung berlindung. Ada yang basah diguyur canda. Ada yang menyala menyapa kepada cahaya. Ada yang menggelengkan kepala tanpa kata-kata. Semua berwarna-warni, aku tetap berdiam diri. Semua menari-nari, aku tetap tidak peduli. Semua rindu…

Read More

Penguasa Angka

Dari angka Nol aku tercipta, dari angka Nol aku merangkak, dari angka Nol aku belajar berjalan, dari angka Nol aku tertatih-tatih menyaksikan misteri alam semesta, yang memberikan ilmu hangatnya matahari, sejuknya malam dikulum air liur hujan, ketika kemarahan angin yang berdansa bergairah menyapu cerita rasa asin air laut, kasarnya pasir pantai disaat telapak kaki berpijak…

Read More

Aku Sajak-Sajak Lukamu

Di sebuah pulau bernama Bali. Ruang sepi, berdongeng jerit-jerit. Kesunyian kau genggam, Ada diam bersenggama. Bukan rindu, oh jengah, Katakan saja kau begitu lelah, Menolehlah, aku mengetuk pintu rumahmu, Bukan untuk menyayat dinding kamarmu, Juga tidak merapikan apa, Tergeletak, sudah retak. Adalah kau yang bertanya; “Siapa engkau, wahai pria?” Ialah aku tercipta dari, Sajak-sajakmu yang…

Read More