Beranda » sajak » Halaman 2

Beku

Sedikit saja berilah aku kepuasan. Agar saja aku tak bersenggama dengan lampiasan. Agar aku tak tertumpuk nafsu berdua. Aku tak merasakan apa setelah lama. Sendiri aku jengah, tak ada yang kusapa. Ditelan waktu kita berjumpa, dengan nama yang dibuat secara asal. Kau… Aku… Satu dalam balutan hubungan beku. Lusa, kita lihat dimensi apakah yang kelak…

Read More

Meniduri Bidadari

Kita hanyalah calon-calon boneka neraka yang akan membuat ceria suasana para penghuninya. Kita tak perlu takut, jika kalian yang mengaku ber-Tuhan, maka buatlah pilihan! Bagiku, surga adalah khayal, bagiku neraka ialah kepastian. Di otakku, bumi adalah tempat orang bebas bercerita, bercinta, kepada siapa saja, kepada apa saja yang kita pilih, dan bagaimana cara untuk melampiaskan…

Read More

Antara Jiwa Atau Raga, Yang Bergeliat Mencengkeram Hasrat

Jingga: “Aku ingin mensudahi semuanya, entah dengan cara apa.” Lara: “Aku pun lelah tak berdaya setiap kali aku terjaga, mengingatmu lebih perih daripada mencari keberadaan Tuhan.” Jingga: “Pernah aku meremehkan keadaan, kini aku merindumu tanpa bisa lupa.” Lara: “Jika manusia sepertiku haruslah terus menerus seperti ini, aku ingin mencaci maki kekosongan, dengan embel-embel yang mereka…

Read More

Mengiyakan Hasrat

Aku berkata tidak tahu, dalam pertanyaan yang kutahu. Aku membiarkan kejadian yang begitu menyakitkan ini, kedalam ranjang dusta kenyataan. Pernah kita bercakap-cakap, pada purnama malam buta. “Kita saling mencinta ya!” Andai tak ada Tuhan-Tuhan selain cinta kita sendiri. Mungkin keabadian yang kusebut-sebut tak akan pernah merobek nadi paham-paham yang sudah diciptakan.

Read More

Surat Berhala Kepada Udara

Hujan terlalu berisik, malam semakin terusik, bintang seperti dipingit, hati menjerit otak mengungkit, dua ribu lima ratus, sesak semakin membungkit, beku aku tenggelam didalamnya. Pucat aku berkarat, sedih karena tak bergeliat, sampai dimana kau udara? Langit pasti gelap, malam pun serasa berarak panjang. Nikotin kafein mengapa menjadi memualkan? Dua ribu tujuh ratus lima puluh. Pena…

Read More

Koma

Aku melawan waktu, aku membunuh kamu. Berperang dengan kenangan, dengan pedang setajam rindu. Aku pernah melepaskanmu, dan aku berpura senang. Aku lelah tak mendengar jeritan diammu. Kau berteriak di telingaku setiap malam. Kau lagi-lagi menang, aku pasrah, kau pun datang. Semakin membesar pinggangmu… Semakin menurun kulitmu… Semakin memutih rambutmu… Semakin liar kau menindihku.

Read More

Ada Kala-nya

Ada kala-nya saya tak berdiam diri melihat rengekan bayi. Ada kala-nya saya memasak makanan enak. Ada kala-nya saya mencuci baju, menyetrika pakaian, menyiapkan seragam kerja. Ada kala-nya saya begitu cerewet agar peralatan di kamar tetap rapi. Ada kala-nya saya melakukan adegan ranjang dengan rasa siap berperang. Ada kala-nya hanya susu penguat tulang adalah minuman di…

Read More

Di Bawah Tubuhku

Namaku: Kebebasan. Tak kudengar segala suara berkumandang di telinga. Aku… aku tak berupa sayap. Hanya khayal yang ingin bepergian ke segala tempat. Dekap, tangkap, jika kau bisa. Pasrah, bukan lagi sifatku. Sikap? Sikap ialah hal “terkadang” yang kuperbuat, lalu aku tersesat. Tersesat dalam bayang rindu akan suaramu, senandungmu, desahmu, kisahmu, bentuk segala rupamu. Aku merindukanmu….

Read More

Liar Liar Liar Aku Liar

Tampari aku dengan kemunafikan. Tunggangi aku penuh dengan kekuatan. Liar Liar Liar. Cambukmu membuatku semakin tak kuasa berkelana. Teriak Oh! Aku berteriak. Terkunci dalam paham yang tak pernah pasti. Aku di sini dalam peluh penuh distorsi. Dalam bunyian penuh imajinasi. Beri aku ruang berikan aku ingatan. Bukan masa lalu yang harus kulupakan.

Read More