Beranda » Udara

Udara

BERHALA: Terluka, menganga, jangan ada darah, lepas liar air mata, mencoba merasa, seratus, seribu, kau ada dimana-mana, menghadapimu aku bukan siapa-siapa. Luruh aku bangkai berhala, nanar, ingin memejam menjaga menghadapimu, aku terluka kau ada dimana-mana, aku suka, kau memang udara.

UDARA: Diam, dibalut kelam, luka, darah, air mata, semua sudah biasa ditelinga. Aku sakit dalam ruang segala alam, aku menjerit demi melepas semua ingatan. Ya! Aku dimana-mana. Ya! Semua pun ingin kubuat bahagia. Mematunglah kau selayaknya berhala.

BERHALA: Satu dua kamu adalah tanya, aku mampu merasa namun hadirmu tak ada, tujuh delapan aku bisa menatap, itu bayangku sendiri, itu karenamu, hei dimana dirimu? Aku merasa mampu melihatmu, sebelas duabelas kau tetap tak nyata, ini bukan udara, bekap aku tindih aku, aku ingin memelukmu.

UDARA: Berhentilah menghitung waktu, sebab aku adalah penguasa segala angka. Aku disampingmu, berbentuk bayang hitam menyerupai dirimu. Peluklah, peluk saja aku disitu. Hingga rindumu muak ditelan waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *